Home » » Tema Pokok Kandungan Al-Qur`an Menurut Fazlur Rohman (Tuhan, Manusia sebagai Individu dan Anggota Masyarakat, serta Alam Semesta)

Tema Pokok Kandungan Al-Qur`an Menurut Fazlur Rohman (Tuhan, Manusia sebagai Individu dan Anggota Masyarakat, serta Alam Semesta)





Tema Pokok Kandungan Al-Qur`an Menurut Fazlur Rohman (Tuhan, Manusia sebagai Individu dan Anggota Masyarakat, serta Alam Semesta)
Al-Qur`an merupakan suatu pedoman hidup terhadap seluruh manusia, baik yang beragama Islam maupun non Islam. Kajian interpretasi al-Quran sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. Terbukti bahwa hadits Rasulullah saw. berfungsi sebagai penjelas bagi Al-Qur`an. Merupakan bentuk intrepretasi terhadap al-Quran. selanjutnya kajian Al-Quran mengalami perkembangan yang dinamis seiring dengan perkembangan kondisi sosial budaya dan peradaban manusia.  
Sampai saat ini sudah banyak para mufassir yang mencoba menjelaskan isi kandungan Al-Qur`an. Salah satunya yaitu Fazlur Rohman dalam bukunya yang berjudul Major Themes of The Quran. Ia membagi tema-tema pokok isi kandungan Al-Quran menjadinbeberapa hal, yaitu : Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, Lahirnya Masyarakat Islam.
Namun pada makalah ini, peneliti bertugas membahas tema pokok Al-Qur`an, khususnya Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta.Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan secara detail terkait hal tersebut.



PEMBAHASAN

2.1. Biografi Fazlur Rohman
Fazlur Rahman lahir di Hazara, Pakistan, pada tanggal 21 September 1919 M, dia berasal dari keluarga yang alim atau tergolong taat beragama, dengan menganut Madzhab Hanafi seperti pengakuannya sendiri, keluarganya mempraktikkan lbadah sehari-hari secara teratur. Pada usia sepuluh tahun, ia telah menghafal Al-Quran.
Setelah beranjak dewasa, ia mengabdikan dirinya sebagai dosen salah satu Universitas di Chicago. Fazlur Rahman merupakan guru besar yang dihormati seorang pendeta Yahudi yang juga berguru kepadanya. Pada tanggal 26 Juli 1988 dalam usianya yang ke-69, Fazlur Rahman menghembuskan nafas yang terakhir di Chicago. Banyaksekali karya-karya yang telah dihasilkanya, diantaranya :
1. Avicenna’s Psychology (1952)
2. Prophecy in Islam : Philosophy and Orthodoxy (1958)
3. Islamic Metodology in History (1965)
4. Islam (1966)
5. The Philosophy of Mulla Sadra (1975)
6. Major Themes of the Quran (1980)
7. Islam and Modernity : Transformation of an Intellectual Traditional (1982)
8. Health and Madicine In Islamic Tradition : Change and Identity (1987)[1]
Dalam buku Major Themes of the Quran  “Tema Pokok Al-Qur`an”, Fazlur Rohman membagi isi pokok kandungan Al-Qur`an menjadi 8 tema, yaitu Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, Lahirnya Masyarakat Islam. Namun dalam makalah ini, secara khusus akan dijelaskan terkait tema Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, dan Alam Semesta.
2.2.1. Tuhan
Perkataan “Allah”, nama Tuhan itu sendiri disebutkan dalam Al-Qur`an  lebih dari 2500 kali, tidak termasuk kata lain yang mewakili kata Allah, yaitu kata Robb, ar Rohman, dsb. Fazlur Rahman ingin memfokuskan bab pertama ini pada permasalahan tentang perlunya pemahaman akan adanya Tuhan, keesaan Tuhan, dan akibat-akibat langsung dari masalah-masalah tersebut menurut al-Qur’an. Dalam hal ini, Tuhan (Allah) mempunyai 20 sifat wajib, yaitu :
1.      Wujud
Allah SWT. bersifat wujud artinya ada. Seandainya Allah SWT. itu tidak ada tentu alam ini pun tidak ada, sebab Allah-lah yang menjadikan alam seisinya.
2.      Kidam
Allah bersifat kidam artinya dahulu. Adanya Allah SWT. pasti tidak berpermulaan, dan tidak berkesudahan. Sebagaimana firman Allah SWT. berikut.
3.      Baka
Allah SWT bersifat baka artinya kekal. Dia tidak akan mati. Allah SWT tidak akan binasa atau rusak. Jika Allah SWT binasa, tentu alam yang dijadikan-Nya tida kekal. Apa saja yang tidak kekal tentu akan binasa atau rusak.
4.      Mukhalafau Lilhawadisi
Allah SWT. itu bersifat mukhlafau lilhawadisi, artinya berbeda dengan makhluk. Allah SWT esa dalam zat-Nya dan perbuatannya-Nya, bahkan dalam segala-galanya.
5.      Qiyamuhu Binafsihi
Allah SWT. bersifat qiyamuhu binafsihi artinya berdiri sendiri. Allah SWT. tidak memerlukan bantuan dari kekuatan lain dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Apabila Allah SWT. memerlukan kekuatan atau bantuan lain berarti Allah SWT lemah. Hal yang seperti mustahil terjadi pada Allah SWT.
6.      Wahdaniyat
Allah SWT. bersifat wahyaniyat, artinya Maha Esa. Mustahil  bagi Allah SWT bersifat ta'dud artinya terbilang, dua, tiga, atau lebih. Bayangkan dengan adanya bulan dan bintang yang gemerlapan, matahari yang bersinar terang, indahnya panaroma, aingin sepoi-sepoi, semua itu menunjukkan keagungan dan keesaan Allah SWT. Seandainya Allah SWT. itu lebih dari satu pasti timbul perebutan kekuasaan dan aturan-aturan yang berbeda. Antara Tuhan yang satu akan menyaingi Tuhan lainnya, serta akan terjadi perpecahan yang mengakibatkan kehancuran karena perebutan kekuasaan itu.
7.      Kodrat
Allah SWT. bersifat kodrat, artinya kuasa atau mempunyai kekuasaan. Allah SWT, berkuasa mencipta, kuasa memelihara dan mengatur, serta kuasa menghancurkan tanpa pertolongan kekuatan lain.
Kekuasaan Allah SWT. tidak hanya dalam hal membuat atau menciptakan saja, tetapi juga berkuasa menghancurkan atau merusak. Dalam hal melaksanakan kekuasaan-Nya itu tidak ada yang dapat memaksa, melarang, dan menghalang-halangi. Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang menyamai kekuasaan Allah SWT, sebab Dia Mahakuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.
8.      Iradat
Allah SWT. bersifat iradat, artinya berkehendak. Apabila Allah SWT. menghendaki sesuatu cukup mengatakan  "Jadilah", terjadilah makhluk yang dikehendaki Allah SWT itu. Dengan sifat itulah, Allah SWT menentukan segala sesuatu yang dikehendaki baik waktu, tempat dan segalanya untuk diwujudkan atau ditiadakan.
9.      Ilmu
Allah SWT bersifat ilmu, artinya mengetahui. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, baik yang konkret (nyata) maupun abstrak (gaib) yang tidak tampak (tersembunyi). Semua itu tidak lepas dari pengamatan Allah SWT. Karena itu tidak ada perbuatan manusia yang tidak diketahui oleh Allah SWT. baik di tempat yang ramai maupun yang tesembunyi, apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.
10.  Hayat
Allah SWT. bersifat hayat yang berarti hidup. Allah SWT. hidup dengan sendiri-Nya, tidak ada yang menghidupkan. Mustahil kalau ada yang menghidupkan, hidup Allah SWT berlainan dengan hidup makhluk yang diciptakannya-Nya. Kalau Allah itu tidak hidup, tentu tidak mempunyai kekuasaan kepada makhluk yang dihidupkan-Nya
11.  Sama'
Allah SWT bersifat sama' artinya mendengar. Suara apa pun yang ada di alam ini, baik suara yang keras maupun yang lembut, semua didengar oleh Allah SWT. Mendengar niat manusia untuk melakukan perbuatan yang terpuji maupun perbuatan yang tercela, doa manusia yang keras maupun doa dalam hati.
12.  Basar
Allah SWT bersifat basar artinya melihat. Allah SWT melihat apa saja, baik berada di tempat gelap maupun di tempat yang terang. Allah SWT yang mengatur dan menjalankan benda alam seperti bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, planet-planet dan sebagainya. Allah SWT yang mengawasi dan menjalankan benda-benda tersebut sehingga dapat berjalan dengan rapi dan teratur serta tidak pernah berbenturan satu sama lain. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah SWT. Maha mengetahui.
13.  Kalam
Allah SWT. bersifat kalam artinya berfirman. Firman (kata-kata) Allah tidak sama dengan kata-kata makhluk yang diciptakan-Nya. Firman Allah SWT diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara Malaikat Jibril.
14.  Qadiran
Qadiran adalah keadaan Allah Ta'ala yang maha berkuasa mengadakan dan meniadakan
15.  Muridan
Muridan adalah Allah Ta'ala yang menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu, ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.
16.  Aliman
Aliman adalah Allah Ta'ala yang mengetahui setiap sesuatu, baik yang telah terjadi maupun belum terjadi, Allah SWT juga mengetahui isi hati dan pikiran manusia.
17.  Hayyan
Hayyan adalah Allah SWT tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.
18.  Sami'an
Sami'an adalah Sifat Allah SWT yang mendengar artinya Allah SWT selalu mendengar apa yang dibicarakan hambanya, pemintaan atau doa hambanya.
19.  Basiran
Basiran adalah sifat Allah SWT yang melihat setiap maujudat (benda yang ada). Allah SWT selalu melihat gerak-gerik kita. sehingga kita harus selalu berbuat baik.
20.  Mutakalliman
Mutakallimun adalah sifat Allah SWT berkata-kata, artinya Allah tidak bisu, ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al-Qur'an[2].

Terkait dengan permasalahan tersebut, al-Qur’an bertujuan untuk menunjukkan bahwa eksistensi Tuhan itu dapat dipahami bukan sebagai sesuatu yang irrasional melainkan sebagai Kebenaran Tertinggi.  Dalam mencapai tujuan ini, manusia perlu untuk berupaya. Bahkan, manusia harus mendengarkan seruan-seruan dari  al-Qur’an. Ia dikatakan beriman apabila ia mengalihkan perhatiannya pada berbagai fakta yang jelas dan kemudian mengubah fakta-fakta itu menjadi hal yang mengingatkan manusia kepada eksistensi Tuhan. Tuhan adalah dimensi yang memungkinkan adanya dimensi-dimensi lain. Tuhan memberikan arti dan kehidupan pada setiap sesuatu. Tuhan itu serba meliputi. Tuhan itu juga adalah yang esa. Apabila tuhan lebih dari satu maka hanya satu saja yang tampil sebagai Yang pertama. Dalam al-Qur’an dikatakan ”Allah berkata: Janganlah mengambil dua Tuhan karena Dia adalah Esa.”
Terkait dengan keesaan Tuhan dan sisi transenden-Nya, Fazlur Rahman menyatakan bahwa Tuhan itu bukanlah sebuah  bagian di antara bagian-bagian lainnya di dalam alam semesta. Tuhan bukan pula sebuah eksistensi di antara eksistensi-eksistensi lainnya. Tuhan itu lebih unggul dari segala yang ia ciptakan. Tuhanlah yang menyebabkan integritas dari segala sesuatu. Karenanya, al-Qur’an amat menekankan kekuasaan dan keagungan Allah. Selain digambarkan sebagai yang Maha Kuasa, Allah juga digambarkan sebagai Tuhan yang Maha Pengasih. Kemurahan Allah itu tampak pada karya penciptaan alam dan manusia,  dan bahwa alam diperuntukkan manusia.
Dalam Bab ini, Fazlur Rahman juga menjelaskan bahwa Al-Qur`an menyebut kata Allah (nama Tuhan yang sesungguhnya) , lebih dari 2500 kali[3], namun demkian tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur`an yang menjelaskan wujud Tuhan itu seperti apa, dengan kata lain, Al-Qur`an hanya memberi gambaran kepada umat manusia terkait tanda-tanda adanya Tuhan itu sendiri. Bahkan Hadits sekalipun yang berfungsi sebagai penjelas Al-Qur`an, juga tidak ditemukan hadits yang menjelaskan tentang wujud Tuhan, karena memang Tuhan bersifat gaib, maka yang tau wujud Tuhan ialah Tuhan itu sendiri[4].
Pada zaman Nabi Muhammad SAW., pernah suatu ketika beliau ditanya oleh sahabatnya, “wahai Nabi, dimanakah tuhan itu berada?”. Sejenak Nabi berfikir, kemudian turunlah ayat 186 dalam surat Al-Baqoroh. yang artinya “dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”
. Lebih lanjut Rohman menjelaskan bahwa meskipun manusia tidak dapat melihat wujud Tuhan, akan tetapi wajib bagi manusia untuk meyakini hal-hal berikut[5] :
1.      Apapun selain Allah adalah bergantung kepadaNya
2.      Allah yang maha Besar dan Perkasa, secara esensial adalah Allah yang maha Rohman
3.      Kedua aspek ini sudah pasti mensyaratkan sebuah hubungan yang tepat antara Tuhan dengan manusia, yaitu sebuah hubungan di antara yang dipertuhankan dengan hambaNya, dan sebagai konsekuensinya adalah hubungan yang tepat diantara sesama manusia. Sewajarnya, hubungan ini adalah hubungan-hubungan normatif  yang mensyaratkan hukum yang pasti terhadap manusia sebagai individu dan di dalam kehidupan kolektif atau sosialnya.
Setelah memahami tiga hal di atas, barulah dapat memperoleh pengertian mengeai sentralisasi Tuhan di dalam keseluruhan sistem eksistensi, sebab sasaran Al-Qur`an adalah manusia dan perilakunya, bukanlah manusia itu sendiri . Lebih lanjut Rohman menjelaskan bahwa Tuhan itu ada bersama setiap sesuatu, Dialah yang menyebabkan integritas dari setiap sesuatu[6]. Karena setiap sesuatu secara langsung berubungan dengan Tuhan, maka setiap sesuatu tersebut melalui dan didalam hubungannya dengan yang lainnya, berhubungan pula dengan Tuhan. Meskipun demikian, Rohman menjelaskan bahwa masih banyak pula manusia yang tidak taak kepada Tuhan, walaupun mereka mengakui keberadaan Tuhan. Padahal dalam Al-Qur`an dijelaskan bahwa petunjuk itu diberikan dan ditanamkan ke dalam diri manusia, karena pengetahuan tentang pembedaan baik dan buruk telah ditanamkan ke dalam hatinya, bahkan manusia telah berikrar untuk mengakui Allah sebagai Tuhannya.


2.2.2. Manusia Sebagai Individu
Dalam Al-Qur`an Allah menyebuut manusia dengan sebutan Insanun dan Basyarun. Secara tegas Fazlur Rohman menjelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah, hal tersebut dijelaskan pada surat Al-Hijr ayat 26. Dalam proses penciptannya, Malaikat memprotes Allah karena ingin menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi.  Mereka berkata “apakah Engkau hendak menempatkan seorang yang akan berbuat aniaya di atas muka bumi, dan akan menumpahkan darah, sedang kami selalu memuji Kebesaran dan KesucianMu?”. Terhadap protes malaikat tersebut Allah tidak menyangkalnya, melainkan Allah menjawab “Aku mengetahui terhadap hal-hal yang tidak kalian ketahui”.Kemudian Allah membuat kompetisi terhadap Adam dan Malaikat. Malaikat disuruh menyebutkan beberapa hal yang berada di sekelingnya, namun ia tak mapu menyebutkannya. Akan tetapi dengan izin Allah, Adam sanggup menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan Allah. Setelah kejadian itu, maka Allah meyuruh Malaikat untuk besujud kepada Adam, dan para Malaikat itu pun besedia. Karena mereka mengakui keunggulan Adam, kecuali salah seorang dari mereka yang dalam Al-Qur`an dijelaskan ia merupakan bangsa jin.
Selanjutnya dijelaskan bahwa, inti dari diciptakannya manusia sebagai individu adalah semata-mata untuk menyembah Allah, atau melaksnakan segala perintah-perintahnya, karena beribadah kepada Allah merupakan kepentingan manusia sendiri, bukan kepentingan Allah. Potensi kemanusiaan setiap individu sewajarnya perlu diaktifkan, sebab proses mengaktifkan potensi ini akan masuk ke dalam hukum psikologi, yaitu :
“..jika seorang manusia sekali melakukan kebaikan atau kejahatan, maka kesempatan untuk mengulangi hal yang serupa semakin bertambah, dan untuk melakukan hal yang berlawanan semakin berkurang, dengan terus menerus melakukan kebajikan atau kejahatan maka seorang manusia hampir tidak dapat melakukan perbuatan yang berlawanan, bahwkan untuk sekedar memikirkannya, sedemikian rupa sehingga jika manusia melakukan kejahatan maka hati dan matanya akan tertutup, tapi jika manusia melakukan kebaikan, maka ia akan mendapatkan kekukuhan jiwa yang tidak dapat dipengaruhi oleh setan. Walaupun demikian, perbuatan yang menyebabkan kebiasaan psikologis, betapapun kuat pengaruhnya tidak boleh dipandang sebagai determinan yang mutlak, karena bagi tingkah laku manusia tidak ada keterlanjuran yang tidak dapat diperbaiki. Taubat dapat mengubah manusia yang benar-benar jahat menjadi teladan kesalehan. Sebalikny, meskipun hal ini jarang terjadi, seorang yang merupakan teladan kesalehan bahkan dapat berubah menjadi semacam setan yang tenggelam di dalam hawa nafsu[7].
2.2.3. Manusia Sebagai Anggota Masyarakat
Manusia merupakan unsur mutlak bagi munculnya masyarakat[8]. Tegaknya sebuah tata masyarakat yang adil, berdasarkan etika, dan dapat bertahan di muka bumi ini adalah yang menjadi tujuan utama al-Qur’an. Hal ini tampak dalam celaannya terhadap ketidakadilan sosial di dalam masyrakat Makkah waktu itu. Selain mencela aspek politheisme yang merupakan symptom dari segmentasi masyarakat, al-Qur’an amat mencela ketimpangan sosio-ekonomi yang ditimbulkan oleh serta yang menyuburkan perpecahan yang sangat tidak diinginkan di antara sesama manusia. Hal ini terus dikecam karena hal inilah yang paling sulit untuk disembuhkan dan yang merupakan inti dari ketimpangan sosial.
Meskipun demikian, Al-Qur’an tidak melarang manusia untuk mencari kekayaan.   Al-Qur’an mengecam pernyalahgunaan kekayaan karena hal tersebut  dapat menghalangi manusia di dalam mencari nilai-nilai yang luhur. Selain itu, sikap tidak mempedulikan orang-orang yang memerlukan bantuan ekonomi ini adalah sikap yang mencerminkan puncak kepicikan dan kesempitan akal (kelemahan dasar dalam diri manusia). Al-Qur’an juga memerintahkan kepada kaum Muslimin bahwa mereka lebih baik mengeluarkan harta kekayaan mereka di atas jalan Allah dan dengan demikian mereka “berpiutang kepada Allah yang akan dibayar Allah dengan berlipat ganda” daripada membungakan uang untuk menghirup darah orang-orang miskin (30:39; 2:245; 5:12,18; 57:11,18; 64:17; 73:20). Terkait dengan keadilan yang merata, al-Qur’an juga menetapkan prinsip bahwa “kekayaan tidak boleh berputar di kalangan orang-orang kaya saja” (59:7).
            Masyarakat Muslimin berdiri karena ideologi Islam. Dalam melaksanakan urusan bersama (pemerintahan) al-Qur’an menyuruh kaum Muslimin untuk menegakkan syura (dewan/majelis konsultatif) di mana keinginan rakyat dapat dikemukakan melalui wakil-wakil mereka. Syura adalah sebuah institusi Arab yang demokratis dari masa sebelum Islam dan yang kemudian didukung oleh al-Qur’an (42:38). Meskipun menghendaki pluralisme institusi-institusi secara liberal dan kemerdekaan individu yang asasi, di dalam kondisi-kondisi tertentu al-Qur’an mengakui bahwa Negara sebagai wakil masyarakat adalah yang tertinggi. Pemberontakan terhadap Negara dapat diganjar dengan hukuman-hukuman yang sangat berat.
            Inti dari keseluruhan hak-hak asasi manusia adalah kesamaan di antara semua ras. Hal ini dibenarkan dan didukung oleh al-Qur’an dimana al-Qur’an menghapuskan setiap perbedaan di antara manusia kecuali perbedaan karena kebajikan dan taqwa. Al-Qur’an menekankan persamaan manusia yang esensial karena di antara semua mahluk hidup bangsa manusia sajalah yang memiliki keunikan. Ada 4 macam kebebasan atau hak-hak asasi yang ditekankan oleh para ahli-ahli hukum Islam, yakni: kebebasan/hak untuk hidup, beragama, mencari nafkah dan memiliki harta kekayaan, dan harga diri (‘irdh). Keeempat hak ini harus dilindungi oleh Negara.  Pelangggaran terhadap hak-hak tersebut adalah “perbuatan aniaya di muka bumi’.
            Terkait dengan persamaan di antara laki dan perempuan, al-Qur’an mengatakan: “dan kaum perempuan mempunyai hak-hak mereka (terhadap kaum laki-laki)—tetapi kaum lelaki satu tahap lebih tinggi (daripada kaum perempuan)” (2: 228). Pada dasarnya, al-Qur’an berpandangan bahwa ikatan perkawinan dipertahankan oleh perasaan “cinta dan kasih-sayang” yang wajar (30:21) dan menyatakan “mereka (isterei-isteri kamu) adalah pakaianmu dan kamu adalah pakaian mereka” (2:187). Al-Qur’an mengharuskan suami untuk berlaku lemah lembut terhadap isterinya.
            Tema yang juga amat dinyatakan al-Qur’an adalah bahwa manusia-manusia yang kuat secara terus menerus berusaha mempengaruhi atau menekan manusia-manusia yang lemah agar mereka melakukan tingkah laku yang bertentangan dengan kehendak mereka yang sebenarnya. Al-Qur’an juga mengemukakan bahwa penyelewengan pemimpin-pemimpin agama merupakan faktor terjadinya keruntuhan masyarakat, padahal para pemimpin agama  ini diharapkan dapat sebagai sumber kekuatan dan regenerasi spiritual masyarakat Penyelewengan dapat ini terjadi ketika hati nurani mereka tidak tergugah apabila mereka melakukan kesalahan. Dengan hati nurani yang macam ini mereka telah mengkompromikan kebenaran dengan “hawa nafsu”.
2.2.4. Alam Semesta
Al-Qur’an hanya  sedikit sekali membicarakan  tentang kejadian alam (kosmologi). Terkait dengan metafisika penciptaan, al-Qur’an mengatakan bahwa alam semesta dan segala sesuatu yang hendak diciptakan Allah di dalamnya tercipta sekedar dengan firman-Nya: “Jadilah!” (2:117; 3:47, 59; 6:73; 16:40; 19:35; 36:82; 40:68). Karenanya, Allah adalah pemilik yang mutlak dari alam semesta dan penguasa  alam semesta yang tak dapat disangkal di samping pemeliharaannya yang maha pengasih. Semua isi alam semesta ini mentaati Allah ‘secara otomatis”, kecuali manusia yang dapat mentaati atau mengingkari Allah. (95). Al-Qur’an menyatakan bahwa keseluruhan alam semesta itu “Muslim” karena setiap sesuatu yang berada di dalamnya (kecuali manusia yang dapat menjadi atau tidak menjadi “Muslim”) menyerah kepada kehendak Allah (3:83), dan setiap sesuatu memuji Allah (57:1; 59:1; 61:1; 17:44; 24:41).
Dengan demikian, alam semesta beserta keluasan dan keteraturannya yang tak terjangkau akal ini harus dipandang manusia sebagai petanda Allah, karena hanya yang Tak Terhingga serta Unik sajalah yang dapat menciptakannya. Petanda ini dapat dikatakan sebagai petanda “alamiah”. Namun apabila sebagian atau hampir semua manusia tidak dapat terbujuk  untuk beriman kepada Allah dengan menyaksikan proses-proses alam yang biasa, maka untuk sementara waktu Allah dapat menyimpangkan, menekan, atapun meniadakan kehebatan/efisasi sebab-sebab alamiah tersebut.
Lebih lanjut Rohman menjelaskan bahwa urgensi alam semesta bagi oang-orang yang memperhatikannya adalah :
1.      Harapan tentang perlunya memandang alam semesta yang serba teratur sebagai petanda atau keajaiban-keajaiban Allah.
2.      Petanda-petanda alam yang tidak teratur hanyalah Allah berikan kepada para RosulNya, untuk menambah keyakinan manusia terhadap Rosul tersebut, serta kepada Allah.
3.      Kegiatan alam (baik di langit dan di bumi) menunjukan kebijakannya terhadap alam semesta itu[9].
.             
Simpulan
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Tuhan merupakan dzat sebagai pencipta segala sesuatu. Tidak ada satupun ayat Al-Qur`an maupun Hadits yang menerangkan wujud Tuhan, yang ada hanyalah keterangan-keterangan yang menjelaskan tanda-tanda adanya Tuhan, baik dalam Al-Qur`an maupun Hadits.
2.      Manusia diciptakan ke muka bumi ini tujuannya hanyalah agar mereka mau beribadah kepada Allah SWT. dan berbuat baik kepada sesamaya Terkait takdir terhadap manusia, terjadi perbedaan dikalangan ulama, Ulama jabariyah menegaskan bahwa segala yang terjadi dan dilakukan oleh manusia semata mata kehendak Tuhan tanpa adanya campurtangan dari manusia, sedangkan ulama qodariyah menjelaskan bahwa takdir dan tingkah laku manusia itu ditentukan oleh manusia itu sendiri, karena allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mau merubahnya. Adapun ulama Asy`ariyah menggabungkan ke dua penjelasan di atas.
3.      Allah menciptakan alam semesta ini bukan tanpa tujuan (iseng belaka), melainkan diciptakannya alam semesta ini agar masusia semakin mengagungkan kebesaran Allah tersebut. Suatu ketika alam ini pun akan mengamai kehancuran, yang disebut dengan kiyamat. Kapan waktu kiamat merupakan rahasia Allah. Hikmahnya adalah agar manusia senantiasa bersiaga dan berhati – hati dalam hidup di dunia ini.



[1] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas Transformasi Intelektual, terj. Ahsin
Mohammad, hlm. vi
[2] http://bit.ly/1motirZ, diakses pada tanggal 2 Januari 2016, Pukul 0.17 WIB.
[3] Ibid.hlm. 1
[4] Sa`dullah Assaidi, Al-Qur`an dan Tema-temanya, Hlm. 175
[5] Ibid. Hlm. 176
[6] Ibid. Hlm. 178
[7] Ibid., Hlm. 187
[8] Ibid. Hlm. 190
[9] Ibid. Hlm. 211

0 komentar :

Posting Komentar

< -->